Entry: Bila Al Quran bisa bicara Tuesday, September 23, 2008



Suatu sore, ditahun 1525. Penjara tempat tahanan orang-orang di situ
serasa
hening mencengkam. Jendral Adolf Roberto, pemimpin penjara yang
terkenal
bengis, tengah memeriksa setiap kamar tahanan.

Setiap sipir penjara membungkukkan badannya rendah-rendah ketika
'algojo
penjara' itu berlalu di hadapan mereka. Karena kalau tidak, sepatu
'jenggel' milik tuan Roberto yang fanatik Kristen itu akan mendarat
di
wajah mereka.

Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar
seseorang
mengumandangkan suara-suara yang amat ia benci. "Hai...hentikan suara
jelekmu! Hentikan...! " Teriak Roberto sekeras-kerasnya sembari
membelalakan
mata.
Namun, apa yang terjadi? Laki-laki di kamar tahanan tadi tetap saja
bersenandung dengan khusyu'nya. Roberto bertambah berang.

'Algojo penjara' itu menghampiri kamar tahanan yang luasnya tak lebih
sekadar cukup untuk satu orang. Dengan congkak ia menyemburkan
ludahnya ke
wajah renta sang tahanan yang keriput hanya tinggal tulang. Tak puas
sampai
di situ, ia lalu menyulut wajah dan seluruh badan orang tua renta itu
dengan rokoknya yang menyala.

Sungguh ajaib... Tak terdengar secuil pun keluh kesakitan. Bibir yang
pucat
kering milik sang tahanan amat gengsi untuk meneriakkan kata, "Rabbi,
waana'abduka. .." Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu
serentak
bertakbir sambil berkata, "Bersabarlah wahai ustadz...Insya Allah
tempatmu
di Syurga."

Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustadz oleh sesama
tahanan,
'algojo penjara' itu bertambah memuncak amarahnya. Ia memerintahkan
pegawai
penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu
keras-keras
hingga terjerembab di lantai. "Hai orang tua busuk! Bukankah engkau
tahu,
aku tidak suka bahasa jelekmu itu?!
Aku tidak suka apa-apa yang berhubung dengan agamamu!
Ketahuilah orang tua dungu, bumi Spanyol ini kini telah berada dalam
kekuasaan bapak kami, Tuhan Yesus.
Anda telah membuat aku benci dan geram dengan 'suara-suara' yang
seharusnya
tak pernah terdengar lagi di sini. Sebagai balasannya engkau akan
kubunuh.
Kecuali, kalau engkau mau minta maaf dan masuk agama kami."

Mendengar "khutbah" itu orang tua itu mendongakkan kepala, menatap
Roberto
dengan tatapan tajam dan dingin. Ia lalu berucap, "Sungguh...aku
sangat
merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai kekasihku yang
amat
kucintai, Allah. Bila kini aku berada di puncak kebahagiaan karena
akan
segera menemuiNya, patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk?
Jika
aku
turuti kemauanmu, tentu aku termasuk manusia yang amat bodoh."

Baru saja kata-kata itu terhenti, sepatu lars Roberto sudah mendarat
diwajahnya. Laki-laki itu terhuyung. Kemudian jatuh terkapar di
lantai
penjara dengan wajah bersimbah darah. Ketika itulah dari saku baju
penjaranya yang telah lusuh, meluncur sebuah 'buku kecil'. Adolf
Roberto
bermaksud memungutnya. Namun,tangan sang Ustadz telah
terlebih dahulu mengambil dan menggenggamnya erat-erat. "Berikan buku
itu,
hai laki-laki dungu!" bentak Roberto. "Haram bagi tanganmu yang kafir
dan
berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci ini!" ucap sang ustadz
dengan
tatapan menghina pada Roberto. Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto,
mengambil jalan paksa untuk mendapatkan buku itu.

Sepatu lars berbobot dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak
jari-jari
tangan sang ustadz yang telah lemah. Suara gemeretak tulang yang
patah
terdengar menggetarkan hati. Namun tidak demikian bagi Roberto.
Laki-laki bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang
yang
terputus. Bahkan 'algojo penjara'itu merasa lebih puas lagi ketika
melihat
tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yang telah hancur.

Setelah tangan renta itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil
yang
membuatnya penasaran. Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah
lusuh. Mendadak algojo itu termenung. "Ah...sepertinya aku pernah
mengenal
buku ini. Tapi kapan? Ya, aku pernah mengenal buku ini." suara hati
Roberto
bertanya-tanya.

Perlahan Roberto membuka lembaran pertama itu. Pemuda berumur tiga
puluh
tahun itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan-tulisan "aneh"
dalam
buku itu. Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu.
Namun, sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Spanyol.
Akhirnya, Roberto duduk disamping sang ustadz yang telah melepas
nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda
tanya
yang dalam. Mata Roberto rapat terpejam. Ia berusaha keras mengingat
peristiwa yang dialaminya sewaktu masih kanak-kanak.

Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan
Roberto.
Pemuda itu teringat ketika suatu sore di masa kanak-kanaknya terjadi
kericuhan besar di negeri tempat kelahirannya ini.

************ ********* ********* ********* ********* ******

Sore itu ia melihat peristiwa yang mengerikan di lapangan Inkuisisi
(lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia ). Di tempat
itu
tengah berlangsung pesta darah dan nyawa. Beribu-ribu jiwa tak
berdosa
berjatuhan di bumi Andalusia . Di hujung kiri lapangan, beberapa puluh
wanita berhijab (jilbab)digantung pada tiang-tiang besi yang
terpancang
tinggi. Tubuh mereka bergelantungan tertiup angin sore yang kencang,
membuat pakaian muslimah yang dikenakan berkibar-kibar
di udara. Sementara, ditengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar
hidup-hidup pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mau memasuki
agama
yang dibawa oleh para rahib.

Seorang bocah laki-laki mungil tampan, berumur tujuh tahunan, malam
itu
masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yang telah senyap.
Korban-korban
kebiadaban itu telah syahid semua. Bocah mungil itu mencucurkan air
matanya
menatap sang ibu yang terkulai lemah ditiang gantungan.
Perlahan-lahan
bocah itu mendekati tubuh sang ummi yang sudah tak bernyawa, sembari
menggayuti ibunya. Sang bocah
berkata dengan suara parau, "Ummi, ummi, mari kita pulang. Hari telah
malam, bukankah ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi
tentang
alif, ba, ta, tsa....? Ummi,cepat pulang ke rumah ummi..." Bocah
kecil itu
akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua menjawab ucapannya.
Ia
semakin bingung dan takut, tak tahu harus berbuat apa. Untuk pulang
ke
rumah pun ia tak tahu arah.

Akhirnya bocah itu berteriak memanggil bapaknya " Abi...Abi... Abi..."
Namun, ia segera terhenti berteriak memanggil sang ba pak ketika
teringat
kemarin sore bapaknya diseret dari rumah oleh beberapa orang
berseragam.

"Hai...siapa kamu?!" teriak segerombolan orang yang tiba-tiba
mendekati
sang bocah. "Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi..." jawab sang
bocah
memohon belas kasih. "Hah...siapa namamu bocah, coba ulangi!" bentak
salah
seorang dari mereka. "Saya Ahmad Izzah..." sang bocah kembali
menjawab
dengan agak grogi. Tiba-tiba plak! sebuah tamparan mendarat dipipi
sang
bocah. "Hai bocah...! Wajahmu bagus tapi
namamu jelek. Aku benci namamu. Sekarang kuganti namamu dengan nama
yang
bagus. Namamu sekarang 'Adolf Roberto' ..Awas! Jangan kau sebut lagi
namamu
yang jelek itu. Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan
kubunuh!"
ancam laki2 itu. Sang bocah meringis ketakutan, sembari tetap
meneteskan
air mata. Anak laki-laki mungil itu hanya menurut ketika gerombolan
itu
membawanya keluar lapangan
Inkuisisi. Akhirnya bocah tampan itu hidup bersama mereka.

************ ********* ********* ********* ********* *******

Roberto sedar dari renungannya yang panjang. Pemuda itu melompat ke
arah
sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat pada
tubuh
sang ustadz. Ia mencari-cari sesuatu di pusar laki-laki itu. Ketika
ia
menemukan sebuah 'tanda hitam' ia berteriak histeris,
"Abi...Abi.. .Abi..."
Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu.

Fikirannya terus bergelut dengan masa lalunya. Ia masih ingat betul,
bahwa
buku kecil yang ada di dalam menggamannya adalah Kitab Suci milik
bapanya,
yang dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak
menidurkannya. Ia
jua ingat betul ayahnya mempunyai'tanda hitam' pada bahagian pusar.
Pemuda
beringas itu terus meraung dan memeluk erat tubuh renta nan lemah.
Tampak
sekali ada penyesalan yang amat dalam atas ulahnya selama
ini.Lidahnya yang
sudah berpuluh -puluh tahun alpa akan Islam, saat itu dengan spontan
menyebut, "Abi.. aku masih ingat alif, ba, ta, tsa..." Hanya sebatas
kata
itu yang masih terekam dalam benaknya.

Sang ustadz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat
yang
membasahi wajahnya. Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat
seseorang
yang tadi menyiksanya habis-habisan kini tengah memeluknya.

"Tunjuki aku pada jalan yang telah engkau tempuhi Abi,tunjukkan aku
pada
jalan itu..." Terdengar suara Roberto memelas. Sang ustadz tengah
mengatur
nafas untuk berkata-kata, ia lalu memejamkan matanya. Air matanya pun
turut
berlinang. Betapa tidak, jika sekian puluh tahun kemudian, ternyata
ia
masih sempat berjumpa dengan buah hatinya, di tempat ini. Sungguh tak
masuk
akal. Ini semata-mata bukti
kebesaran Allah.

Sang Abi dengan susah payah masih bisa berucap." Anakku, pergilah
engkau ke
Mesir. Disana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal
dengan
Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy. Belajarlah engkau di
negeri
itu," Setelah selesai berpesan sang ustadz menghembuskan nafas
terakhir
dengan berbekal kalimah indah "Asyahadu anla Illaaha
ilallah,waasyhadu anna
Muhammad Rasullullah. ." Beliau pergi dengan menemui Rabbnya dengan
tersenyum, setelah sekian lama berjuang dibumi yang fana ini.

Kini Ahmad Izzah telah menjadi seorang alim di Mesir.
Seluruh hidupnya dibaktikan untuk agamanya, 'Islam', sebagai ganti
kekafiran yang di masa muda sempat disandangnya. Banyak pemuda Islam
dari
berbagai penjuru berguru dengannya... " Al-Ustadz Ahmad Izzah
Al-Andalusy.

Benarlah firman Allah..."Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada
agama
Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia
menurut
fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah. Itulah agama
yang
lurus,tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS 30:30) 
 

   1 comments

weni herlian
October 14, 2008   08:27 AM PDT
 
assalamu 'alaikum wr wb
subhanallah, ana terharu membacanya,,, ana sedih banget hikss ana jadi pengen nangis ne

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments